"Di tengah masyarakat Minangkabau yang saat itu masih kental dengan budaya patriarki, dan di bawah bayang-bayang kekuasaan kolonial Belanda, lahirlah seorang perempuan yang kelak menjadi simbol perjuangan pendidikan dan bagi keagamaan kaum wanita Indonesia. Dialah Rahmah El Yunusiyyah, sosok ulama perempuan, penulis, sekaligus pendidik yang gigih memperjuangkan hak perempuan untuk memperoleh ilmu agama secara layak."
Latar Belakang Keluarga dan Masa Kecil
Rahmah El Yunusiyyah lahir di Bukit Surungan, Padang Panjang, Sumatera Barat, pada akhir tahun 1900. Ia merupakan putri dari Syekh Muhammad Yunus, seorang ulama terkemuka Minangkabau, dan Rafi'ah. Berbeda dengan kebanyakan anak sezamannya, Rahmah kecil tidak mengenyam pendidikan formal ala Belanda. Ia justru tumbuh di lingkungan surau dan mengaji, dibimbing oleh para ulama besar seperti Abdullah Ahmad, Syekh Abbas Abdullah, dan H. Abdul Karim Amrullah.
Kakak kandungnya, Zainuddin Labay El Yunusy, adalah seorang pembaharu pendidikan Islam yang turut membentuk cara memandang Rahmah tentang pentingnya pendidikan agama yang terstruktur, termasuk bagi kaum perempuan.
Mendirikan Sekolah Khusus Perempuan Pertama
Kegelisahan batin Rahmah muncul karena sulitnya perempuan pada masa itu bertanya langsung kepada guru laki-laki mengenai masalah fikih perempuan. Dari keresahan itulah, pada tahun 1923, ia mendirikan Diniyah Puteri Padang Panjang , sekolah agama khusus perempuan pertama di Indonesia. Di sekolah ini, murid-murid belajar ilmu agama sekaligus keterampilan hidup selama berjam-jam setiap pekannya.
Tidak berhenti di situ, pada tahun 1924 ia juga mendirikan "Sekolah Menyesal" bagi perempuan yang buta huruf, sebagai wadah bagi mereka yang menyesal tidak sempat mengenyam pendidikan sebelumnya. Rahmah dengan tegas menjaga sekolahnya agar tetap netral dari kepentingan politik apa pun, termasuk terhadap pemerintah kolonial Belanda.
Karya Tulis dan Pemikiran Keagamaan
Sebagai seorang yang berlatar belakang keilmuan agama yang kuat, Rahmah aktif menuangkan pemikirannya melalui tulisan-tulisan bertema pendidikan Islam dan kedudukan perempuan dalam ajaran Islam, termasuk materi ajar dan kurikulum bagi Diniyah Puteri. Ia juga dikenal lantang menyuarakan pentingnya perempuan menutup aurat, sebuah gagasan yang ia perjuangkan hingga ke tingkat dalam Kongres Perempuan Indonesia di Batavia pada 1935 — kongres yang kelak melahirkan Kongres Wanita Indonesia (Kowani).
Reputasinya sebagai ulama perempuan juga diakui hingga luar Sumatera Barat. Pada bulan April 1940, ia diundang menghadiri Kongres Persatuan Ulama Seluruh Aceh, dan dipandang sebagai para ulama Aceh sebagai salah satu ulama perempuan terkemuka di Sumatera.
Berhadapan dengan Kekuasaan Kolonial
Perjuangan Rahmah tidak lepas dari benturan dengan pemerintah Belanda. Ia pernah ditangkap dan diseret ke pengasingan Landraad karena aktivitasnya, meski akhirnya hanya dikenai denda dan tetap melanjutkan perjuangannya. Ia juga memimpin gerakan penolakan terhadap kebijakan kolonial yang dianggap merugikan masyarakat pribumi, seperti Ordonantie Kawin Bercatat dan Ordonantie Sekolah Liar pada tahun 1932.
Setelah masa kolonial Belanda berakhir dan situasi berganti ke masa pendudukan Jepang serta masa revolusi kemerdekaan, Rahmah tetap aktif berjuang. Ia bahkan sempat ditahan oleh Belanda pada awal tahun 1949 di tengah gejolak Agresi Militer Belanda kedua.
Warisan dan Pengakuan
Wafat Rahmah El Yunusiyyah pada tahun 1969, meninggalkan warisan besar berupa lembaga pendidikan Diniyah Puteri yang masih berdiri hingga kini serta pemikiran-pemikirannya tentang pendidikan Islam yang berpihak pada perempuan. Atas jasa dan perjuangannya, ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh pemerintah Indonesia pada peringatan Hari Pahlawan tahun 2025, menjadikannya perempuan ketiga asal Sumatera Barat yang menyandang gelar tersebut, setelah Rasuna Said dan Ruhana Kuddus.
Kisah Rahmah El Yunusiyyah adalah bukti bahwa semangat keagamaan dan pembelaan terhadap hak perempuan bisa berjalan beriringan, bahkan di masa yang paling sulit sekalipun — sebuah warisan yang layak terus dikenang oleh generasi perempuan Indonesia masa kini.


0 komentar
Komentar