Gemar Literasi

Gemar Literasi

Open Your Book Grow Your Mind
Semangat Berliterasi Di Bawah Reruntuhan Gaza
infodayli

Semangat Berliterasi Di Bawah Reruntuhan Gaza

Juli 24, 2026 Ruang Literasi Kamu menit baca 0 komentar

 Di tengah kehancuran akibat perang yang berkepanjangan, ada satu hal yang ternyata sulit dihancurkan sepenuhnya di Gaza: keinginan orang untuk membaca. Ratusan gedung perpustakaan hancur, koleksi buku lama—bahkan yang usianya sebelum 1948—ikut musnah. Tapi dari reruntuhan itu, justru muncul inisiatif-inisiatif kecil yang menunjukkan bahwa minat baca warga Gaza tidak ikut runtuh bersama bangunannya.

Perpustakaan yang Lahir dari Puing

Salah satu contohnya adalah perpustakaan komunitas yang diberi nama "Phoenix Library" di kawasan Rimal, Gaza. Namanya sengaja dipilih sebagai simbol kebangkitan dari kehancuran—persis seperti burung phoenix dalam mitologi yang bangkit dari abu.

Pendirinya, seorang pemuda bernama Omar Hamad, mengumpulkan sekitar 6.000 buku dari sela-sela reruntuhan bangunan yang hancur akibat serangan. Buku-buku itu—mulai dari karya sastra, buku ilmiah, sampai koleksi anak-anak—dibersihkan dan disusun ulang satu per satu sampai bisa dibaca kembali. Salah satu pengunjungnya, Aya Al-Masri, mengatakan perpustakaan ini memberi ruang bagi warga untuk kembali mendekati ilmu, setelah banyak dari mereka kehilangan koleksi buku pribadi mereka sendiri.

Perpustakaan di Dalam Tenda

Cerita lain datang dari Deir el-Balah. Seorang penjual buku bernama Mohammad Saad kehilangan tokonya karena hancur diserang. Alih-alih berhenti, ia membangun ulang usahanya dalam bentuk yang jauh lebih sederhana: sebuah perpustakaan jalanan di dalam tenda. Buku-buku bekas yang berhasil diselamatkan ia tata rapi di sana, memberi warga sekitar—termasuk anak-anak yang sekolahnya juga ikut hancur—tempat untuk tetap bisa mengakses bacaan di tengah situasi yang serba terbatas.

Kisah semacam ini juga sejalan dengan kondisi pendidikan Gaza secara umum, yang untuk waktu lama terhenti akibat perang. Baru setelah gencatan senjata, sekolah-sekolah darurat mulai didirikan dengan tenda dan struktur seadanya, sebagian dengan dukungan lembaga kemanusiaan, sebagai upaya mengembalikan anak-anak Gaza ke ruang belajar.

Dukungan dari Luar Gaza

Semangat ini juga mendapat sambutan dari luar. Gerakan bernama Publishers for Palestine, misalnya, rutin mengajak orang-orang di berbagai negara untuk membaca karya-karya penulis Palestina lewat kegiatan yang disebut Pekan Baca Palestina. Mereka menyediakan sejumlah e-book gratis, dari nonfiksi sejarah sampai kumpulan puisi, agar cerita dan suara dari Gaza tetap bisa sampai ke pembaca di seluruh dunia—bahkan ketika perpustakaan fisiknya sendiri sedang berjuang untuk berdiri kembali.

Buku sebagai Cara Bertahan

Kalau dilihat lebih jauh, apa yang terjadi di Gaza ini sebenarnya menyampaikan pesan sederhana: membaca bisa menjadi cara orang bertahan, bukan cuma cara mengisi waktu. Saat rumah hancur dan masa depan terasa tidak pasti, buku memberi sesuatu yang tidak mudah dirampas—ruang untuk berpikir, membayangkan, dan tetap merasa terhubung dengan dunia yang lebih luas.

Kita yang berada jauh dari sana, yang masih punya kemewahan untuk memilih rak buku sendiri dan komunitas literasi yang aktif, mungkin bisa mengambil pelajaran kecil dari sini: jangan tunggu keadaan ideal untuk mulai membaca dan berbagi buku. Kadang, justru di tengah keterbatasanlah semangat itu tumbuh paling kuat.

0 komentar

💬 Yuk ikut komentar — nggak perlu login ribet, cukup isi nama & tulis pendapatmu di bawah.

Komentar