Gemar Literasi

Gemar Literasi

Open Your Book Grow Your Mind
4 Tokoh & Kegilaanya Terhadap Buku
temanbaca

4 Tokoh & Kegilaanya Terhadap Buku

Juli 29, 2026 Ruang Literasi Kamu menit baca 0 komentar

 Ada orang yang cinta buku hanya untuk dirinya sendiri, dan ada yang cintanya begitu besar sampai "meluber" ke orang lain — ke anak-anak jalanan, remaja di pelosok, sampai suku pedalaman yang belum mengenal huruf. Empat tokoh berikut ini termasuk golongan kedua. Kecintaan mereka pada buku bukan cuma soal koleksi atau hobi baca pribadi, tapi berubah jadi gerakan yang benar-benar mengubah hidup banyak orang. Yuk simak kisahnya.

1. Gol A Gong: Kehilangan Satu Tangan, Tak Kehilangan Semangat Literasi


Heri Hendrayana Harris, atau lebih dikenal dengan nama pena Gol A Gong, punya kisah hidup yang bikin merinding. Semasa kecil ia mengalami kecelakaan yang membuatnya kehilangan tangan kiri. Tapi alih-alih menyerah, ia justru tumbuh menjadi salah satu penggerak literasi paling berpengaruh di Indonesia.

Pada 1998, bersama sang istri Tias Tatanka dan sahabatnya Toto ST Radik, ia mendirikan Rumah Dunia di Serang, Banten — awalnya cuma taman bacaan sederhana di belakang rumah mereka sendiri, dengan dana dan relawan seadanya. Dari sana lahir gerakan yang ia sebut "Gempa Literasi": bedah buku, lokakarya menulis, wakaf buku, bazaar buku, hingga diskusi sastra yang digelar rutin. Semboyannya sederhana tapi dalam: "Rumahku Rumah Dunia, Kubangun dengan Kata-Kata."

Yang membuat Rumah Dunia istimewa adalah semangat regenerasinya. Sejak berdiri, kepemimpinannya sudah berpindah tangan berkali-kali ke penggerak-penggerak muda, dan komunitas ini terus konsisten melahirkan penulis-penulis baru dari Banten hingga sekarang. Berkat dedikasinya, Gol A Gong dipercaya menjadi Ketua Umum Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) Indonesia, lalu dinobatkan sebagai Duta Baca Indonesia periode 2021–2026. Dari satu rumah kecil di Serang, gaungnya kini menginspirasi ratusan taman bacaan masyarakat di seluruh Nusantara — bukti bahwa gerakan literasi tak butuh gedung besar, cukup niat yang besar.

2. Najwa Shihab: Dari Layar Kaca ke Pelosok Negeri

Dikenal luas lewat program talkshow tajamnya, Najwa Shihab ternyata juga punya "kegilaan" lain: memastikan buku sampai ke tangan orang-orang yang paling sulit menjangkaunya. Sebagai Duta Baca Indonesia periode 2016–2020, ia menegaskan bahwa literasi bukan sekadar bisa mengeja atau membaca, melainkan soal membangun bangsa yang berpikir kritis dan punya daya inovasi.

Salah satu perannya yang paling menyentuh adalah sebagai Duta Pustaka Bergerak — jaringan yang mengantarkan buku ke pelosok-pelosok daerah dengan cara yang kadang tak terbayangkan: naik kuda, pedati, perahu, bahkan vespa, demi buku bisa sampai ke desa-desa terpencil. Ia juga aktif mengampanyekan pentingnya literasi digital, mengingatkan masyarakat untuk kritis dan tidak mudah termakan hoaks di tengah derasnya informasi internet.

Pesannya soal buku juga sederhana dan menggugah: cukup satu buku untuk membuat seseorang jatuh cinta pada membaca — dan bangsa yang cinta membaca adalah bangsa yang akan melahirkan generasi penemu, bukan bangsa yang hanya jadi penonton kemajuan orang lain.

3. Butet Manurung: Mengajar Baca-Tulis di Tengah Rimba

Kalau kebanyakan orang membaca buku di ruang nyaman, Saur Marlina Manurung — akrab disapa Butet Manurung — justru membawa ilmu baca-tulis itu masuk ke pedalaman hutan Jambi, tempat listrik saja belum masuk.

Sejak 1999, Butet hidup berbulan-bulan bersama Orang Rimba (Suku Anak Dalam), belajar bahasa mereka, ikut berburu dan makan apa saja yang mereka makan, demi bisa diterima. Butuh sekitar tujuh bulan sampai Orang Rimba akhirnya percaya padanya — bahkan ia harus bersumpah tidak akan menjual, membohongi, atau memaksakan agama tertentu kepada mereka. Dari kepercayaan itu, lahirlah Sokola Rimba pada 2003, yang kemudian berkembang menjadi Sokola Institute.

Karena tak ada papan tulis atau buku pelajaran di tengah rimba, Butet bahkan menciptakan sendiri metode belajar membaca cepat bernama "Silabel" — anak-anak Rimba bisa mulai membaca hanya dalam dua minggu. Kurikulumnya pun tidak baku; semua disesuaikan dengan persoalan hidup nyata yang dihadapi Orang Rimba, bukan sekadar hitung-hitungan di atas kertas. Kini, metode dan pendekatan Sokola Institute sudah diterapkan di belasan program pendidikan masyarakat adat di seluruh Indonesia, memberi akses pendidikan pada belasan ribu orang yang sebelumnya nyaris tak tersentuh sistem pendidikan formal.

4. Bung Hatta: 16 Peti Buku yang Menemani Pengasingan

Dari generasi lebih awal, ada Mohammad Hatta — Bapak Proklamator sekaligus Wakil Presiden pertama RI — yang kecintaannya pada buku sudah legendaris sejak muda. Saat pemerintah kolonial Belanda hendak membuangnya ke Boven Digoel, Papua, pada 1935, Hatta justru meminta waktu tambahan hanya untuk mengepak buku-bukunya ke dalam belasan peti besi. Buku-buku itu ia bawa ke setiap tempat pengasingannya — dari Boven Digoel, Banda Neira, hingga Bangka — total mencapai 16 peti.

Di tengah keterasingan itu, buku menjadi caranya menjaga pikiran tetap sehat dan produktif: ia membaca, menulis, dan mengajar rekan-rekan seperjuangannya. Koleksi bukunya terus bertambah sepanjang hidup hingga mencapai ribuan judul, kini tersimpan rapi di Perpustakaan Bung Hatta di Jakarta sebagai warisan yang masih bisa dikunjungi hingga sekarang. Kecintaannya pada ilmu pengetahuan ini menjadi pengingat bahwa semangat belajar dan membaca bisa tumbuh subur bahkan di masa-masa paling sulit sekalipun.


Dari taman bacaan sederhana di Serang, gelombang buku yang menyeberang pulau naik vespa, metode membaca kilat di tengah rimba, sampai belasan peti buku yang setia menemani pengasingan — keempatnya punya satu kesamaan: mereka tidak berhenti pada "aku suka membaca", tapi melangkah lebih jauh ke "bagaimana caranya orang lain juga bisa merasakan ini". Barangkali itulah bentuk kegilaan pada buku yang paling bermakna — bukan sekadar mengoleksi, tapi menyalurkannya jadi manfaat nyata bagi orang lain.

0 komentar

💬 Yuk ikut komentar — nggak perlu login ribet, cukup isi nama & tulis pendapatmu di bawah.

Komentar