Gemar Literasi

Gemar Literasi

Open Your Book Grow Your Mind
Balas Dendam Paling Elegan: Kisah Kakek di Maroko yang Telah Membaca 4.000 Buku
temanbaca

Balas Dendam Paling Elegan: Kisah Kakek di Maroko yang Telah Membaca 4.000 Buku

Agustus 02, 2026 Ruang Literasi Kamu menit baca 0 komentar

Pernah nggak kamu ngerasa dendam banget sama keadaan? Mungkin karena impianmu terhalang kondisi finansial, atau gagal mencapai sesuatu bukan karena kamu nggak mampu, tapi karena situasi yang nggak berpihak.

Biasanya, "balas dendam" identik dengan amarah yang merusak. Tapi, ada seorang kakek asal Maroko yang mendefinisikan ulang kata balas dendam dengan cara yang bakal bikin kita speechless dan merenung panjang.

Namanya Mohamed Aziz. Usianya kini sudah lebih dari 70 tahun. Buat kamu yang sering scroll media sosial, mungkin pernah sekilas melihat foto viral seorang kakek tua yang duduk asyik membaca buku di ambang pintu, berlatar tumpukan buku yang menggunung. Ya, itu dia. Ia bukan sekadar penjaga toko buku tua di Rabat, Maroko. Ia adalah seorang legenda hidup yang telah menamatkan lebih dari 4.000 buku untuk "membalas dendam" pada masa lalunya.

Mimpi yang Terenggut di Usia 15 Tahun

Mundur ke puluhan tahun lalu, masa kecil Aziz jauh dari kata privilege. Di usia 6 tahun, ia sudah menjadi yatim piatu. Di saat anak-anak lain sibuk bermain, ia harus banting tulang mencari ikan demi satu impian sederhana: bisa lulus SMA.

Namun, realita memang kadang sekejam itu. Saat usianya menginjak 15 tahun, Aziz dipaksa menelan pil pahit. Ia sadar ia tak akan pernah bisa menamatkan sekolahnya. Alasannya bukan karena ia kurang pintar, tapi murni karena harga buku pelajaran saat itu terlalu mahal untuk dibeli oleh seorang anak yatim piatu miskin.

Marah? Kecewa? Tentu saja. Aziz muda saat itu harus berdiri menghadapi dunia tanpa ijazah, tanpa uang, dan dengan mimpi yang hancur. Namun, di titik terendah itulah, sebuah tekad lahir.

"Inilah cara saya membalas dendam pada masa kecil saya, pada situasi saya, pada kemiskinan saya," kenang Aziz.

Balas Dendam Literasi: Bermula dari 9 Buku

Balas dendam Aziz tidak meledak menjadi kekerasan atau rasa benci kepada dunia. Sebaliknya, ia melawan kemiskinan dan kebodohan dengan literasi.

Pada tahun 1963, ia memulai misinya. Hanya bermodalkan sebuah karpet usang yang digelar di bawah pohon, Aziz mulai berjualan sembilan buah buku. Empat tahun berjuang menjajakan buku di jalanan, ia akhirnya berhasil menyewa sebuah toko kecil berukuran tak lebih dari 1,5 x 1,5 meter di jantung kota Rabat.

Selama lebih dari setengah abad setelahnya, Aziz menghabiskan 12 jam sehari sebagai penjual buku. Ia berkeliling mencari buku lama dari penjual lain, mengumpulkan apa saja dari majalah hingga buku teks kedokteran yang tebal.

Menjalani 4.000 Kehidupan

Di sinilah bagian yang paling mind-blowing. Dari 12 jam kerjanya setiap hari, Aziz menghabiskan enam hingga delapan jam hanya untuk membaca. Ia duduk di kusen pintu tokonya, berkelana dari satu halaman ke halaman lain, dalam bahasa Arab, Prancis, Spanyol, hingga Inggris. Ia hanya akan meletakkan bukunya saat harus makan, salat, merokok, atau melayani pelanggan (yang rata-rata hanya satu atau dua orang saja sehari).

Ketika ditanya berapa banyak buku yang sudah ia baca, dengan santai namun pasti, ia menjawab bahwa koleksi dan bacaannya "belum cukup." Padahal, ia sudah menamatkan lebih dari 4.000 buku!

Ada satu kutipannya yang sangat deep: "Saya telah membaca lebih dari 4.000 buku, yang berarti saya telah menjalani lebih dari 4.000 kehidupan. Setiap orang berhak mendapatkan kesempatan itu."

Sisi Terdalam Sang Penjaga Buku

Di balik ribuan fiksi dan literatur barat yang ia lahap, ada satu buku yang paling dekat dengan hatinya: sebuah Al-Qur'an bersampul merah dengan halaman yang sudah menguning. Setiap hari, sebelum azan berkumandang, ia membacanya. Baginya, membaca bukan cuma pelarian, tapi anugerah dan perintah Tuhan (merujuk pada surat Al-'Alaq, Iqra yang berarti "bacalah").

Sebagai seseorang yang masa kecilnya "dirampas" oleh kemiskinan, hanya ada dua hal di dunia ini yang bisa membuat Kakek Aziz marah besar:

  1. Buku yang halamannya hilang.

  2. Melihat anak-anak kecil yang bekerja dan bukannya pergi sekolah.

Setiap hari, saat ia berjalan ke masjid terdekat untuk salat lima waktu, ia sering berpapasan dengan anak-anak kecil yang bekerja kasar di gang-gang kota. Dan setiap hari pula, anak-anak itulah yang menjadi subjek pertama dalam doanya.

"Masalah ini bukanlah hal baru. Itu terjadi pada saya 50 tahun yang lalu, dan ironisnya, itu masih terjadi sekarang," ucap Aziz dengan nada getir.

Sebagai bentuk aksi nyata dari balas dendamnya, Aziz dengan sengaja menurunkan harga buku-buku pelajaran di tokonya khusus untuk para pelajar. Ia memastikan, jangan sampai ada anak yang harus mengubur mimpinya hanya karena tak mampu membeli buku, seperti yang ia alami setengah abad silam.



Sebuah Warisan untuk Anak Muda

Di tengah era digital yang serba cepat ini—di mana kita sering mengeluh burnout, malas membaca teks panjang, atau gampang menyerah dengan nasib—kisah Mohamed Aziz adalah tamparan halus yang menyadarkan.

Di senja usianya, doa dan harapannya tak lagi muluk-muluk. "Dalam hidup, saya paling peduli dengan kemampuan saya membaca dan bahwa saya bisa terus membaca sampai akhir," tuturnya.

Kisah Kakek Aziz mengajarkan satu hal penting buat kita kaum muda: Balas dendam terbaik itu bukan tentang flexing kesuksesan, jadi lebih kaya dari orang yang meremehkan kita, atau menghancurkan orang lain. Balas dendam yang paling elegan adalah memastikan bahwa rasa sakit yang pernah kita rasakan di masa lalu, tidak perlu lagi dirasakan oleh orang lain di masa depan.

0 komentar

💬 Yuk ikut komentar — nggak perlu login ribet, cukup isi nama & tulis pendapatmu di bawah.

Komentar