Gemar Literasi

Gemar Literasi

Open Your Book Grow Your Mind
Cita-Cita Anak Iran Yang Terkubur Bersama Jasad Mereka
infodayli

Cita-Cita Anak Iran Yang Terkubur Bersama Jasad Mereka

Juli 24, 2026 Ruang Literasi Kamu menit baca 0 komentar

 Amaineh Nademi, guru berusia 33 tahun, menyusuri reruntuhan sekolah tempatnya mengabdi selama enam tahun. Bangunan itu dulunya penuh warna—dinding-dinding kelas dihiasi gambar balon dan bunga buatan anak-anak. Kini yang tersisa hanya beton yang runtuh dan dinding yang nyaris ambruk.

Sekolah itu adalah Sekolah Dasar Shajareh Tayyebeh di Minab, sebuah kota kecil di Iran. Pada 28 Februari 2026, di awal perang antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran, sebuah serangan udara menghantam sekolah tersebut dan mengubah pagi Sabtu yang biasa menjadi salah satu tragedi paling mematikan bagi warga sipil dalam konflik itu.

Sebanyak 156 orang tewas, termasuk 120 anak-anak dan seorang perempuan hamil, menurut kantor kejaksaan Minab. Sejumlah pakar menilai bukti-bukti mengarah pada keterlibatan pasukan AS, mengingat sekolah tersebut berdekatan dengan kompleks Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang citra satelitnya menunjukkan telah beberapa kali menjadi sasaran serangan AS dan Israel. Hingga kini Washington belum secara resmi mengakui tanggung jawabnya, meski sejumlah media AS melaporkan bahwa penyelidik militer meyakini serangan itu kemungkinan besar tidak disengaja.

Pagi Terakhir di Kelas Satu


Menurut penuturan Amaineh, hari itu berjalan seperti biasa. Karena bertepatan dengan bulan Ramadan, murid-murid berkumpul di musala untuk mengaji sebelum pelajaran dimulai. Amaineh baru saja mengajarkan huruf-huruf baru dalam alfabet Persia ketika kepala sekolah mengumumkan penutupan sekolah menyusul gelombang serangan pertama ke seluruh Iran. Para guru pun bergegas menghubungi orang tua agar segera menjemput anak-anak.

Dari 15 murid kelas satu yang diajar Amaineh, hanya lima yang masih tersisa di ruang kelas lantai atas ketika ledakan pertama terdengar tak jauh dari sekolah. Amaineh yang saat itu berada di koridor bergegas kembali untuk menyelamatkan murid-muridnya—namun sebuah rudal keburu menghantam bangunan. Ia dan anak-anak yang dipeluknya ikut terlempar oleh hantaman itu, lalu ruangan dipenuhi asap hitam pekat hingga ia hampir tak bisa melihat murid yang digendongnya sendiri maupun bernapas.

Ledakan kedua menyusul, disertai teriakan dan tangisan anak-anak, sebelum akhirnya sebagian bangunan sekolah ambruk seketika. Amaineh sempat menyerahkan anak-anak yang terluka kepada orang-orang di lantai bawah sebelum merangkak melewati api dan puing menuju gerbang, tempat ia mendapati kerumunan orang tua yang berlarian tanpa alas kaki—tanpa menyadari bahwa banyak korban justru masih tertimbun reruntuhan di dalam.

Amaineh masih mengingat satu per satu nama murid dan rekan kerjanya yang tewas hari itu: Adrina, siswi kelas satu yang meninggal di tangga bersama ibunya; Fatemeh dari kelas dua; seorang siswa kelas enam yang dulu diajarinya mengenal huruf; hingga kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru olahraga, dan guru mengaji.

Pencarian yang Tak Membuahkan Harapan

Reza Besharati, petugas Palang Merah Iran yang termasuk tim penyelamat pertama di lokasi, mendapati jalanan sekitar sekolah dipenuhi kendaraan keluarga yang panik mencari anak-anak mereka. Sebagai warga kota kecil, ia bahkan mengenali sejumlah korban, termasuk kerabatnya sendiri. Tim penyelamat berharap menemukan yang selamat, namun kenyataannya tidak ada satu pun yang berhasil diselamatkan hidup-hidup.

Jasad-jasad yang ditemukan dalam kondisi rusak parah membuat banyak keluarga hanya bisa mengenali anak mereka lewat sepatu atau pakaian yang tersisa. Reza mengaku sulit tidur selama beberapa hari setelah kejadian karena bayang-bayang yang ia saksikan di reruntuhan sekolah itu terus terngiang setiap kali ia memejamkan mata.

Penyelidikan yang Berlarut

Presiden AS Donald Trump sempat menuding Iran sebagai pihak yang bertanggung jawab atas insiden ini, tanpa disertai bukti. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth kemudian mengklaim militer AS tidak pernah menyasar target sipil, sembari mengumumkan penyelidikan tingkat tinggi yang dipimpin perwira dari luar Komando Pusat AS (Centcom). Hingga kini pemerintahan Trump belum merilis hasil resmi penyelidikan tersebut.

Sejumlah media AS yang mengutip sumber-sumber yang mengetahui jalannya penyelidikan melaporkan adanya indikasi awal bahwa data intelijen yang sudah usang dari Badan Intelijen Pertahanan AS (DIA) turut menyebabkan sekolah tersebut keliru dianggap sebagai bagian dari lokasi militer.

Sikap Washington sendiri berubah-ubah seiring waktu. Menurut laporan Tribunnews (24 Juli 2026), Trump pada awalnya melemparkan tudingan ke Iran tanpa bukti. Namun setelah bukti-bukti kian menguat—termasuk foto serpihan yang diduga berasal dari rudal jelajah Tomahawk milik AS serta rekonstruksi digital lokasi sekolah oleh Sky News bersama Forensic Architecture yang menegaskan bangunan itu memang telah berdiri sebelum serangan—Trump justru kembali melempar keraguan. Dalam wawancara dengan Fox News, ia mengatakan kebenaran soal apa yang sebenarnya terjadi mungkin tak akan pernah bisa dipastikan, dan menyebut foto-foto lokasi serangan itu berpotensi dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI). Trump juga menyatakan perlu berkonsultasi dulu dengan para pejabat militer sebelum memutuskan apakah hasil penyelidikan resmi akan dipublikasikan ke publik.

Duka yang Tak Kunjung Reda

Tak jauh dari reruntuhan sekolah, sebuah pemakaman kini menjadi tempat bersemayam para murid dan guru yang tewas. Setiap malam, keluarga korban datang membersihkan debu dari foto anak-anak mereka dan berdoa hingga larut, sementara saudara-saudara kandung korban bermain di antara nisan.

Masoumeh Mehran Shekhabadi hampir setiap hari mengunjungi makam putrinya, Setayesh, yang tewas di usia sembilan tahun. Ia termasuk orang tua yang berlari ke sekolah begitu mendengar serangan, namun yang ia temui hanyalah asap dan jasad anak-anak yang sudah tak utuh lagi. Jenazah Setayesh baru bisa dipastikan identitasnya sehari kemudian, setelah petugas menanyakan warna kaus kaki yang dikenakannya. Menurut Masoumeh, putrinya bercita-cita menjadi guru dan gemar berpura-pura mengajar boneka-bonekanya di rumah.

Kesedihan Masoumeh bercampur amarah terhadap pihak yang ia anggap bertanggung jawab atas kematian putrinya dan anak-anak lain di sekolah itu.

Angka 156 korban tewas—termasuk 120 anak-anak dan seorang perempuan hamil—bahkan telah menjadi simbol politik: pemerintah Iran berulang kali merujuk Minab dalam pidato dan forum internasional, memakai angka korban versi awal (168) sebagai nama kode pesawat yang membawa delegasi perunding mereka. Bagi Teheran, tragedi ini menjadi bantahan kuat atas klaim Washington bahwa kampanyenya presisi dan minim korban sipil.

Peristiwa ini turut memecah opini publik Iran sendiri—sebagian melihatnya sebagai bukti mustahilnya "perang bersih", sekaligus kesempatan bagi otoritas untuk memposisikan diri sebagai pelindung rakyat dari serangan asing.

Di pemakaman itu, sang ibu duduk di samping makam kecil putrinya, bertanya apa salah anak-anak itu—yang menurutnya hanya membawa pensil, buku, dan tas sekolah, bukan senjata.

Sumber : BBC Indonesia & Tribunnews.com 

semua Foto Milik BBC indonesia




0 komentar

💬 Yuk ikut komentar — nggak perlu login ribet, cukup isi nama & tulis pendapatmu di bawah.

Komentar