Gemar Literasi

Gemar Literasi

Open Your Book Grow Your Mind
Mereka Gak Malu Gelar Buku Eitss.. Tapi Mereka Bukan Sedang Dagang Ya..
infodayli

Mereka Gak Malu Gelar Buku Eitss.. Tapi Mereka Bukan Sedang Dagang Ya..

Juli 24, 2026 Ruang Literasi Kamu menit baca 0 komentar

Di sudut kampus UNILA, Bandar Lampung, sehelai tikar bergaris ungu-merah muda digelar di atas paving block. Di atasnya, puluhan buku tersusun rapi: novel Tere Liye berjejer dengan cerita silat lawas, di sebelahnya ada Sherlock Holmes, tak jauh dari situ buku-buku bertema keislaman. Orang yang lewat mungkin awalnya mengira ini lapak jualan buku bekas. Tapi tidak ada label harga di mana pun.

Ini adalah salah satu kegiatan rutin Komunitas Gemar Literasi (Gelis) Bandar Lampung — digagas antara lain oleh Melisa, Aulia, dan beberapa anggota lainnya. Konsepnya sederhana: buku-buku diadakan di tempat umum, siapa saja boleh duduk dan membaca, tanpa dipungut biaya sepeser pun.

"Gelar buku" ini sengaja dipilih sebagai istilah, bukan "jualan buku" atau "bazar buku". Bedanya jelas kalau dilihat langsung: orang-orang yang datang bukan menawar harga, tapi memilih judul, duduk bersila di tikar, lalu benar-benar membaca. Ada yang datang sendiri, ada yang bawa pasangan, ada juga yang membawa anak kecil ikut duduk melipir sambil menyimak buku bergambar.

Yang menarik, kegiatan ini tidak berlangsung di dalam ruangan tertutup seperti perpustakaan pada umumnya, melainkan di ruang terbuka kampus — antara lalu-lalang orang berolahraga, motor yang diparkir, dan pohon-pohon rindang. Siapapun yang kebetulan lewat bisa langsung berhenti, duduk, dan ikut membaca tanpa harus menjadi anggota komunitas dulu.

Buku yang digelar pun beragam, bukan hanya satu genre. Ada fiksi populer, ada juga bacaan yang lebih personal atau reflektif. Keberagaman ini sepertinya disengaja — agar siapa pun yang datang, apa pun minat bacaannya, tetap menemukan sesuatu yang cocok untuk dibaca hari itu.

Kegiatan seperti ini mungkin terdengar kecil jika dibandingkan festival buku besar atau pameran nasional. Tapi justru di situ letaknya yang lain. Tidak ada target penjualan, tidak ada panitia berseragam, tidak ada tiket masuk. Yang ada hanya tikar, buku, dan orang-orang yang mau duduk sebentar untuk membaca.


Kalau minat baca sering dianggap masalah besar yang butuh solusi besar, komunitas ini justru menunjukkan hal sebaliknya: kadang yang dibutuhkan hanya tikar, buku yang layak dibaca, dan keberanian untuk menggelarnya di tempat ramai — lalu membiarkan orang datang sendiri.



0 komentar

💬 Yuk ikut komentar — nggak perlu login ribet, cukup isi nama & tulis pendapatmu di bawah.

Komentar